
tentang ehipassiko
Ehipassiko Foundation adalah lembaga nirlaba nonsektarian yang didirikan di Yangon, pada tahun 2002 oleh Handaka Vijjananda. Nama "Ehipassiko" berasal dari bahasa Pali yang berarti “datang dan lihatlah sendiri”, suatu ciri unik Dharma yang tidak menuntut keimanan membuta.
Lifetime Commitment to Dharma
Be Good Be Happy Be Mindful
Menyebarluaskan Buddhadharma melalui 3 pilar layanan: penerbitan, pendidikan, dan pelatihan.
Penerbitan
Melalui jalur dana dan penjualan, ehiPassiko telah menerbitkan:
Produk ehiPassiko tersedia di toko buku, bursa wihara, dan agen di seluruh Indonesia, serta bisa pula dipesan melalui e-mail atau sms.
Ehipassiko adalah salah satu pemrakarsa pembentukan dan moderator Forum Publikasi Buddhis Indonesia.
Pendidikan & Pelatihan
Ehipassiko gencar menggelar retret, kursus, seminar, dan ceramah Dharma di seluruh Indonesia dengan narasumber nasional maupun internasional.
Dalam pendidikan formal, Ehipassiko berkontribusi dengan menerbitkan Buku Pelajaran Agama Buddha untuk SD-SMP-SMA.
Ini adalah prinsip Ehipassiko yang diturunkan dari teladan Bodhisatta (Bakal Buddha) dalam memenuhi Parami (prinsip kesempurnaan) sampai menjadi Buddha. Prinsip ini juga merupakan cara hidup umat Buddha sejati di dalam mengarungi samudra Sangsara (siklus kehidupan dan kematian) yang mahalama ini.
Semoga aku menjadi obat bagi yang sakit.
Semoga aku menjadi makanan bagi yang kelaparan.
Semoga aku menjadi pelindung bagi yang takut.
Semoga aku menjadi suaka bagi yang dalam bahaya.
Semoga aku menjadi penyejuk bagi yang murka.
Semoga aku menjadi pemandu bagi yang tersesat.
Semoga aku menjadi bahtera bagi yang menyeberang.
Semoga aku menjadi pelita bagi yang dalam gulita.
Semoga sepanjang masa,
saat ini dan selamanya,
aku melayani, untuk menjadi sempurna,
aku menjadi sempurna, untuk melayani.
"Dharma itu hanya satu, bukan banyak. Pembedaan muncul karena kepentingan orang-orang yang tidak tahu." (Seng-Ts'an, Sesepuh Zen Ketiga)
Ehipassiko adalah lembaga non-sektarian yang menghormati keragaman tradisi dan budaya Buddhis, bahkan non-Buddhis sekalipun. Ehipassiko mengacu pada prinsip-prinsip Dharma (baca: Kebenaran Universal) yang bukan milik eksklusif individu atau kelompok tertentu. Kebenaran tidaklah diskriminatif; kebenaran adalah "bagai sang surya menyinari dunia", tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih.
"Perbedaan" itu "beda" dengan "pembedaan"
"Perbedaan" seyogianya tidak dipandang sebagai alasan "pembedaan". Perbedaan atau keragaman adalah suatu sifat alamiah dari jagad raya ini, yang telah ada, masih ada, dan akan selalu ada. Pelangi akan selalu berwarna-warni. Bukankah di situlah indahnya pelangi?
Lain halnya dengan "pembedaan". Pembedaan timbul karena pikiran yang diskriminatif, yang dualistik, yang melekat pada konsep baik–buruk, menang–kalah, untung–rugi, suka–tidak suka. Sikap pembedaan dan kemelekatan ini berakar dari ketidaktahuan (moha), dan dengan cepat akan terpupuk menjadi dualisme ketamakan (lobha) dan kebencian (dosa).
Betapapun tampak baiknya atau terasa nikmatnya, sayangnya, "pembedaan" ini tidak akan membawa kita pada kedamaian dan kebahagiaan sejati. Dalam tingkat ekstrem, pikiran yang diskriminatif dan melekat ini justru akan mendatangkan penderitaan, entah itu disadari atau tidak, diakui atau tidak. Inilah salah satu contoh Kebenaran Universal: "Kemelekatan membawa derita." Believe it or not? Ehipassiko!
Bhinneka Tunggal Ika
Masihkah kita ingat semboyan negara yang pernah kita hafalkan sejak SD ini? Semoga kita tidak hanya menganggapnya sebagai sekadar hiasan dinding di bawah gambar burung. Bukan main-main, ini adalah semboyan negeri tercinta ini! Semboyan ini dikutip dari sebuah puisi Jawa Kuno dari Kitab Sutasoma karya Mpu Prapanca yang hidup pada abad ke-14 di Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, puisi ini dibuat untuk menggambarkan toleransi antara pemeluk ajaran Buddha dan Hindu. Kutipan lengkapnya adalah:
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
(Arti harfiah: "mereka memang berbeda, namun mereka adalah sama, karena Kebenaran adalah satu".)
Secara singkat, Bhinneka Tunggal Ika ini berarti ”biarpun berbeda tetapi tetap satu Dharma”. Keragaman adalah suatu/satu kebenaran, biarpun kita semua berbeda, tetapi pada hakikatnya kita adalah satu. Semangat ini pulalah yang menjadi dasar toleransi (dasar menyikapi perbedaan) dalam segenap aspek kehidupan. Perbedaan adalah hakikat kehidupan sepanjang masa. Masihkah pikiran kita akan "membeda-bedakan" atau mempertanyakan lagi kenapa kita "berbeda"? Segala sesuatu memang berbeda, tetapi justru itulah "kesamaannya", itulah "kesatuannya". Inilah contoh lain Kebenaran Universal: "We are One," demikian kata Simba dalam Lion King 2.
We are one: semua ingin berbahagia
Ada satu kesamaan di antara kita semua, semua makhluk hidup di jagad raya ini, besar atau kecil, tampak atau tak tampak, manusia atau hewan, tanpa terkecuali. Semua tidak ingin menderita. Semua ingin berbahagia! Lagi-lagi contoh Kebenaran Universal: "Semua ingin berbahagia." Kalau kita renungkan baik-baik, layakkah kita membenci, menganiaya, merugikan, bahkan membunuh makhluk lain?
Keinginan untuk berbahagia, tidak diragukan lagi telah menjadi tenaga penggerak utama (kalau bukan satu-satunya) seluruh roda kehidupan. Namun sayang, dalam memenuhi naluri dasar ini—lagi-lagi karena ketidaktahuan—kita tersilaukan, terjebak, dan tersesat. Kita berbuat ini dan itu dengan alasan demi kebahagiaan, namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan sejati, kita malah ikut menuai rasa cemas dan menderita.
Dalai Lama mengatakan, "Penderitaan adalah faktor paling dasar yang sama-sama kita alami dengan makhluk lain. Inilah faktor yang mempersatukan kita dengan semua makhluk hidup." Inilah semangat yang seharusnya mempersatukan kita semua: semua ingin berbahagia!
Prinsip Pelayanan Dharma Universal
Di dalam mewujudkan visi dan misinya, Ehipassiko berpegang pada prinsip sebagai berikut:
Dharma Universal merupakan "esensi" dari segala ajaran. Namun, dengan adanya begitu banyak pandangan dan tradisi, bagaimana kita bisa menemukan esensi yang dimaksud? Berikut adalah pendekatan yang disarankan:
Di dalam ajaran Buddha, ada satu benang merah yang mempersatukan berbagai tradisi dan pengalaman kebebasan. Benang merah pemersatu tersebut adalah ketidakmelekatan (anupadana).
Semua tradisi Buddhis mengakui bahwa kemelekatan adalah sumber penderitaan; kemelekatan adalah hambatan bagi kebebasan sejati dan kebahagiaan mutlak. Tiga jenis kemelekatan mendasar adalah kemelekatan terhadap kesenangan indrawi (kama), pandangan (ditthi), dan konsep diri (atta).
Buddha berkata: "O para Bhikkhu, bahkan pandangan ini, yang demikian murni dan demikian jelas, jika engkau terikat padanya secara berlebihan, jika engkau terlalu membanggakannya, jika engkau terlalu menghargainya, jika engkau melekat padanya, engkau tidak mengerti bahwa ajaran itu serupa dengan sebuah rakit—yang dipakai untuk menyeberang, bukannya untuk dilekati erat-erat." (M.I. 260; Miln. 316)
Ketidakmelekatan adalah gerbang menuju Dharma Universal, menuju Nibbana!
Semoga semua makhluk…
be good, be happy, be mindful.